ORANG AWAM TAK PERLU TAHU DALIL?


Pernyataan ini mungkin keliru Benar orang awam tak WAJIB mengetahui dalil karena Allah hanya membebankan hamba Nya dengan apa yang mereka mampu. Adapun MEWAJIBKAN orang awam mengetahui dalil jelas sesuatu yang di luar kemampuan mereka. Tetapi ini sama sekali tak berarti bahwa orang awam tak patut diajarkan tentang dalil. Bukankah dengan mengetahui dalil hal ini…

Bersabar, Karena Kekurangan Rezeki


  Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad S.A.W. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah mengikuti baginda hingga hari kiamat. Mohon maaf artikel yang akan anda baca masih berbahasa melayu jikalau ada kesulitan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya,semoga bermanfaat. Ketika dalam perjalanan pulang dari bertemu…

Belajar diam, sebuah nasehat dan muhasabah diri


Pembicaraan kita hari ini dengan tema : “ Bagaimana kita belajar diam ” Sebagian orang mungkin heran, apakah diam harus dipelajari?

Yang dimaksud dengan belajar adalah praktek latihan, mengasah dan menjadikan tradisi. Judul ini saya ambil dari perkataan sebagian salaf. Ketika mereka berkata : “ kami belajar diam sebagaimana kalian belajar berbicara“, sekarang ini banyak dilakukan kursus training seni berbicara, seni berpidato dan juga seni bagaimana mempengaruhi orang lain. Namun pada pertemuan ini, kita membahas – Insya ALLAH – bagaimana kita belajar diam. Yang saya maksud bukan diam dari kebenaran, Naudzubillah … atau diam dari amar ma’ruf nahi munkar atau diam dari menasehati manusia atau diam dari mengarahkan dan memberi petunjuk kepada mereka … bukan sekali-kali bukan !!! yang aku maksud adalah diam dari senda gurau, diam dari kata-kata bathil diam dari katanya dan katanya …serta perkataan yang tidak ada faedahnya baik bagi diennya maupun dunianya.

Mau rumah di surga? jauhi debat kusir, walaupun anda dalam kebenaran!


Rasulullah -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda :

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia”

Merenungi Nasehat Rasulullah SAW kepada Putrinya


” Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya dia berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw datang kepada puterinya, Fathimatuz Zahra’. Beliau dapati Fathimah sedang menumbuk gandum di atas lumping (batu/kayu penggiling), sambil menangis. Kemudian Rasul berkata kepadanya: “Apakah yang membuatmu menangis wahai Fathimah? Allah tiada membuat matamu menangis. “ Fathimah kemudian menjawab: ” Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan kesibukanku dalam rumah”.

Kemudian Nabi duduk di sampingnya. Dan Fathimah berkata lagi:

“Wahai ayahanda, atas keutamaan engkau, mintalah kepada Ali agar dia membelikan bujang untukku supaya dapat membantuku menumbuk gandum dan menyelesaikan urusan rumah”.

Sifat bebal dan keras kepala: penyakit yang paling sulit diobati


Diriwayatkan bahwa Imam Asy Syafi’i berkata :

لِكُلِّ داءٍ دَواءٌ يُسْتَطَبُّ بِه — إلا الحماقَةُ أعيَتْ مَن يُداويها

“Setiap penyakit pasti ada obat yang akan menyembuhkannya, kecuali sifat bebal dan keras kepala, ia hanya akan membuat orang yang ingin menyembuhkannya putus asa dan kelelahan”

Ibrahim An Nadzdzam ditanya :

ما حدُّ الحُمق ؟

“Apakah batas sifat bebal itu ?”

Beliau menjawab :

سألتني عمَّا ليس له حدّ

“Engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu yang tidak memiliki batas”