Bentuk lain “mengemis” yang sekarang dijadikan profesi dengan tujuan agar tidak dipandang orang sekadar meminta-minta adalah mengamen. Lantas bagaimana kita menyikapinya?

Lebih dari itu, mengamen lebih jelek dari sekadar meminta-minta, sebab profesi ini dilakukan dengan menyanyi dan diikuti dengan alat musik. Ada apa dengan nyanyian dan musik?

Hukum Musik dan Nyanyian

Menghadapi Pengamen JalananLantunan suara musik atau nyanyian ibaratnya sudah menjadi gaya hidup dan hiburan bagi sebagian besar masyarakat. Namun dibalik “keindahannya”, ternyata syariat berkata lain. Banyak dalil dan perkataan para ulama menolaknya.

Al Quran Membicarakan Nyanyian

1. Nyanyian dikatakan sebagai “lahwal hadits” (perkataan tak berguna)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah padanya dengan azab yang pedih.” (Luqman: 6-7)

Asy-Syaukani dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Lahwal hadits adalah segala sesuatu yang melalaikan seseorang dari berbuat baik. Hal itu bisa berupa nyanyian, permainan, cerita-cerita bohong dan setiap kemungkaran.” Lalu, Asy Syaukani menukil perkataan Al Qurtubhi yang mengatakan bahwa tafsiran yang paling bagus untuk makna lahwal hadits adalah nyanyian. Inilah pendapat para sahabat dan tabi’in.[1]

2. Orang-orang yang bernyanyi disebut “saamiduun”

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمِنْ هَذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ  , وَتَضْحَكُونَ وَلا تَبْكُونَ , وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ , فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

“Maka, apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu saamiduun? Maka, bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (an-Najm: 59-62)

Apa yang dimaksud سَامِدُونَ (saamiduun)? Menurut salah satu pendapat, makna “saamiduun” adalah bernyanyi dan ini berasal dari bahasa orang Yaman. Mereka biasa menyebut “ismud lanaa” dan maksudnya adalah: “Bernyanyilah untuk kami”. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan Ibnu ‘Abbas. [2]
Jadi, dalam dua ayat tersebut, jelaslah bahwa mendengarkan “nyanyian” adalah suatu yang dicela dalam Al Quran.

Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – Benci Nyanyian

1. Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.” [3]

Jika dikatakan menghalalkan musik, berarti musik itu haram.

2. Dari Abu Malik Al Asy’ari, Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

“Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamr, mereka menamakannya dengan selain namanya. Mereka dihibur dengan musik dan alunan suara biduanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan Dia akan mengubah bentuk mereka menjadi kera dan babi.” [4]

3. Dari Nafi’ –bekas budak Ibnu ‘Umar-, beliau berkata,

Ibnu ‘Umar pernah mendengar suara seruling dari seorang pengembala, lalu beliau menyumbat kedua telinganya dengan kedua jarinya. Kemudian beliau pindah ke jalan yang lain. Lalu Ibnu ‘Umar berkata, “Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengar suara tadi?” Aku (Nafi’) berkata, “Iya, aku masih mendengarnya.”

Kemudian, Ibnu ‘Umar terus berjalan. Lalu, aku berkata, “Aku tidak mendengarnya lagi.”

Barulah setelah itu Ibnu ‘Umar melepaskan tangannya dari telinganya dan kembali ke jalan itu lalu berkata, “Beginilah aku melihat Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – ketika mendengar suara seruling dari seorang penggembala. Beliau melakukannya seperti tadi.” [5]

Dari dua hadits pertama, dijelaskan mengenai keadaan umat Islam nanti yang akan menghalalkan musik,berarti sebenarnya musik itu haram kemudian ada yang menganggap halal. Begitu pula pada hadits ketiga yang menceritakan kisah Ibnu ‘Umar bersama Nafi’. Ibnu ‘Umar menyontohkan bahwa Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – melakukan hal yang sama dengannya yaitu menjauhkan manusia dari mendengar musik. Hal ini menunjukkan bahwa musik itu jelas-jelas terlarang.

Empat Ulama Madzhab Mencela Nyanyian

Imam Abu Hanifah. Beliau membenci nyanyian dan menganggap mendengarnya sebagai suatu perbuatan dosa. [6]

Imam Malik bin Anas. Beliau berkata, “Barangsiapa membeli budak lalu ternyata budak tersebut adalah seorang biduanita (penyanyi), maka hendaklah dia kembalikan budak tadi karena terdapat ‘aib.” [7]

Imam asy-Syafi’i. Beliau berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.” [8]

Imam Ahmad bin Hambal. Beliau berkata, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati dan aku pun tidak menyukainya.” [9]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah v mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.” [10]

Diberi atau tidak?

Bagaimana saat pengamen itu datang kepada kita yang telah mengetahui bahwa pekerjaan itu haram? Apakah kita kasih uang juga? Sedapat mungkin tidak usah diberi, gunakan cara halus dan aman sehingga dia tidak tersinggung saat kita tolak.

Lalu, bagaimana kalau kita memberi uang kepadanya? Secara hukum tentu saja haram. Sebab, itu seperti orang yang membeli minuman keras atau membeli daging anjing. Yakni memberi uang karena pertunjukan musiknya itu. Berbeda, kalau kita memberikan uang tersebut, karena kita tahu ia orang miskin yang perlu ditolong. Namun, bila kita memberikannya saat ia selesai menyenandungkan lagunya secara begitu saja, tentu tak mungkin diniatkan sebagai sedekah atas orang miskin.

Pertama, karena kita biarkan dia menyanyi yang kita tahu itu haram, bahkan membiarkannya hingga selesai.

Kedua, karena si pengamen pasti hanya memahami uang itu sebagai bayaran dari nyanyiannya, sehingga ia tidak memahami tujuan sedekah itu yang sebenarnya.

Untuk itu, jika ingin bersedekah padanya, jangan biarkan ia bernyanyi. Sebelum ia menyanyi, atau saat ia baru saja memulai menyanyi, segera saja datangi, serahkan uang sedekah itu, sambil mengatakan, “Ini, sedekah fi sabilillah untukmu, bukan untuk nyanyianmu…”

Kemudian, bagaimana cara yang lebih bijak untuk memberitahukan soal hukum musik padanya? Sambil memberi sedekah sebelum ia bernyanyi, berikan saja makalah singkat atau buku ringkas yang menjelaskan tentang haramnya lagu dan musik, sambil berkata, “Ini hadiah buku buatmu.. dibaca ya…!”

Kita masih bisa mengharapkan, ia akan membaca dan merenungi dalam kesendiriannya. Minimal ia akan berfikir dua kali untuk kembali mengamen di rumah kita. Karena dia tahu, bahwa menurut kita mengamen itu haram hukumnya. Wallahu a’alam bishawab.

(***)

Sumber: Rubrik Fikih Keluarga, Majalah Nikah Sakinah Vol. 10 No. 5

Dari artikel : majalahsakinah.com

Baca juga artikel yang lalu:

  1. musik” islami
  2. hukum musik menurut pandangan alqur’an dan assunnah
  3. e-book hadist shahih haramnya musik