oleh : A. Ahmad Hizbullah MAG
[www.ahmad-hizbullah.com]

say no to valentine Semua orang tahu, terutama kaula muda, tanggal 14 Februari adalah perayaan hari Valentine (Valentine’s Day). Hari ini menjadi simbol pencurahan kasih sayang yang dikaitkan dengan kegiatan simbolis, seperti memberi bunga, cokelat, kencan, dan sebagainya. Sama seperti negeri asalnya, Barat, hari Valentine  diasosiasikan dengan saling bertukar “pernyataan cinta romantis.”

Sejarah perayaan ini berawal dari perayaan Lupercalia (Feast of Lupercalia) dalam ritual paganisme (kafir penyembah dewa) pada jaman kerajaan Romawi. Perayaan Lupercalia adalah sebuah festival budaya Romawi Kuno untuk membersihkan roh jahat dengan menyembah Lupercus yang diyakini sebagai Dewa Kesuburan. Perayaan ini diadakan pada tanggal 13 sampai 15 Februari setiap tahunnya. Pada tanggal 13-14 Februari mereka memuja Dewi Juno, ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan ‘Feast of Lupercalia.’

Pada malam menjelang festival Lupercalia berlangsung, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol untuk diundi (dilotre). Para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencannya di festival itu. 

Tak jarang pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain, berpacaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah. Perayaan dewa kesuburan pun berujung pada perayaan penuh nafsu seksual.

Festival ini diawali dengan pengorbanan dua kambing jantan dan seekor anjing oleh Luperci (pendeta kuil Lupercus). Lalu dua Luperci muda menuju ke altar untuk dilumuri darah persembahan di telapak tangannya. Setelah itu mereka diharuskan tersenyum dan tertawa. Luperci menguliti dua kambing persembahan dan membuatnya menjadi jubah, meniru Lupercus. Keduanya lalu lari mengelilingi tembok kota Palatine menurut petunjuk dari batu yang disusun. Gadis dan wanita muda akan berbaris di sepanjang rute tersebut untuk mendapatkan sentuhan dari Luperci yang berlumuran darah persembahan. Ini ditujukan untuk menjamin kesuburan, mencegah kemandulan dan kemudahan dalam proses kelahiran.

Valentine: Sinkretisme Agama Berhala dan Kristenisasi

Lupercalia dirayakan terakhir pada pemerintahan Anastasius I pada 491-581 M. Ketika Katolik berkembang di Roma, para pastor tidak melawan Lupercalia, tapi mengadopsinya untuk meneguhkan kekristenan dengan memasukkan nuansa kristiani dalam ritual paganisme. Dengan dukungan Kaisar Konstantin, Paus Gregory I merubah nama-nama dewa pagan dengan mitos martir kristiani, yaitu Santo Valentinus.

Pada tahun 496 M, secara resmi Paus Gelasius I menjadikan tanggal 14  Februari sebagai hari raya untuk menghormati tir Santo Valentine dengan nama Saint Valentine’s Day.. 
Dalam martirologi Katolik Kuno, konon ada tiga St Valentine berbeda, yang pesta ulang tahun kematiannya sama-sama dirayakan pada tanggal 14 Februari. Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908) menyebut nama Valentinus paling tidak merujuk pada salah satu dari tiga  martir atau  santo (orang yang dianggap suci) yang hidup pada yang hidup pada akhir abad ke-3 pemerintahan Kaisar Claudius II. Uniknya, kisah kedua martir tersebut tidaklah romantis sama sekali, yaitu: 

  1. Valentine of Rome, yaitu seorang pastur di  Roma yang tewas dibunuh pada tahun 269 M. Konon, jenazahnya kemudian dikubur di Via Flaminia dan reliknya berada di Gereja Saint Praxed di Roma.

  2. Valentine of Terni, yaitu seorang uskup Interamna (sekarang Terni, terletak sekitar 60 mil dari Roma). Atas perintah Prefek Placidus, ia ditangkap, didera, dan dipenggal kepalanya pada tahun 197 M, dalam masa penganiayaan Kaisar Claudius II. Konon, ia juga dikubur di Via Flaminia, dan reliknya terdapat di Basilica Santa Valentine di Terni.

  3. Valentine of Africa, seorang pastur yang menjadi martir bersama beberapa pendampingnya di provinsi Romawi Africa. Tetapi, tidak banyak yang diketahui mengenai santo ini.
Pada intinya, ketiga orang kudus ini, yang semuanya bernama Valentine, menunjukkan kasih yang gagah berani bagi Tuhan dan Gereja-Nya.

Ketiga orang itu semuanya mati dieksekusi dengan alasan yang sama, yaitu mempertahankan doktrin Ketuhanan Yesus saat diancam untuk berpindah ke agama Pagan Romawi Kuno. 

Jadi, latar belakang Hari Valentine sama sekali tidak ada kejadian atau cerita tentang romantisme atau kasih sayang dalam kisah-kisah tentang ketiga orang di atas. Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya cinta romantis juga tidak ada sama sekali. Justru yang ada hanyalah kisah kematian tragis yang tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. 

Di kemudian hari, Paus Gelasius I membongkar kepalsuan mitos Santo Valentine. Ia menegaskan, sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini. Namun tanggal 14 Februari tetap dijadikan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus, semata-mata untuk mengungguli popularitas hari raya Lupercalia pada tanggal yang sama.
Menyadari kekeliruan yang telah dilakukan para Paus terdahulu, maka hari raya Valentine dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969, dengan alasan untuk menghapus daftar para santo yang asal-muasalnya dipertanyakan dan hanya berbasis legenda saja. Namun karena sudah mendarah daging selama berabad-abad pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Ironinya, di hari Valentine banyak umat Islam yang latah mengucapkan selamat Valentine kepada orang yang dikasihi dan dicintainya. Ungkapan yang paling populer adalah “Be Valentine” atau “Be My Valentine.”

Jika memahami asal-usul Valentine’s Day, maka ungkapan ini berarti ajakan untuk menjadi martir pembela doktrin Kristen tentang Ketuhanan Yesus, Dosa Waris dan Penebusan Dosa. Padahal semua doktrin ini sudah jelas kekafirannya dan bertentangan dengan aqidah Islam. Rasulullah SAW memperingatkan tindakan ini bisa menyebabkan kekafiran:

“Barang siapa yang meniru suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu” (HR Tirmidzi).


Tanpa disadari, di zaman modern ini masih banyak orang yang mundur berabad-abad ke zaman primitif paganisme.

 

Rayakan Valentine, Kembali ke Zaman Berhala

Umat Kristen di Yerusalem, Lebanon, Syiria, Rusia dan agama Nasrani dari non-Barat tak pernah mengadakan misa Valentine, dan tak pernah memiliki kalender religius untuk Santo Valentine. 

Pihak Katolik sendiri, yang semula mencetuskan hari raya Valentine, telah menghapusnya dari kalender gerejawi sejak tahun 1969. Saat ini, Gereja Katolik  menjadikan 14 Februari sebagai hari Peringatan Wajib (Memoria Obligatoria) untuk Santo Metodius dan Santo Sirilus. Sedangkan hari Santo Valentinus tidak lagi dimasukkan dalam  Calendarium Sanctorale (Kalender Liturgi). Sejak pembaharuan liturgi tahun 1969, St. Valentinus tidak lagi dimasukkan namanya ke dalam Kalender Liturgi Gereja Universal. 

Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)  juga tidak memasukkan nama Santo Valentinus ke dalam Kalender Liturgi yang berlaku lokal di Indonesia.
Romo Franz Magnis Suseno, Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STF Driyarkara) mengaku  tidak mengetahui Valentine Day sebagai Hari Kasih Sayang. Sebab di dalam Katolik pun tak mengenal Valentine Day, hanya sekedar mempromosikan barang dagangan. Jutaan bahkan milyaran orang merayakan Valentine tiap tahunnya. Milyaran mawar dipetik, puluhan juta kilogram coklat didistribusikan dan jutaan kartu ucapan dibuat.
“Valentine Day hanya sebagai ajang kapitalis bisnis untuk melakukan keuntungan dari perayaan itu,” kecamnya.

Jika Katolik yang mencetuskan Hari Valentine sudah menyadari kekeliruannya, maka sangat memalukan bila ada umat Islam yang masih latah merayakannya. Tanpa sadar mereka mengulangi kebodohan orang-orang kafir berabad-abad yang lalu.

Yang paling menjijikkan, kalangan muda-mudi kerap memaknai Valentine Day secara berlebihan dan salah kaprah, khususnya dalam hal berpacaran. Akibatnya hari ini kerap terjadi hubungan perzinaan alias kumpul kebo yang dianggap sebagai bagian dari kasih sayang. 

Tanpa disadari, mereka melestarikan tradisi mesum orang-orang kafir kuno dalam ritual Lupercalia. Padahal Allah SWT telah melarang keras segala perbuatan yang mendekati perzinaan: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Qs Al-Isra 32). 
Sekali merayakan Hari Valentine, kita terjerumus pada kemurtadan akidah dan kemaksiatan. []

Artikel : suara-islam.com