ilustrasi-orang paling kuat Parameter kekuatan menurut Islam

Mungkin banyak di antara kita yang masih ingat pertandingan eksibisi antara raja tinju dunia; Muhammad Ali dengan juara gulat dunia; Antonio Inoki di tahun 1976. Banyak kalangan kecewa dengan hasil akhir sabung manusia tesebut, karena ternyata draw! Mereka penasaran ingin mengetahui siapakah yang lebih KUAT? Begitulah ukuran kekuatan di mata kebanyakan orang; kuat secara fisik dan duel semata.

Islam memiliki parameter lain dalam menilai kekuatan. Kata Nabi shallallahu’alaihiwasallam,

“لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ“

“Orang yang kuat bukanlah jago gulat, namun orang yang kuat adalah yang mampu menahan diri manakala marah”. HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.


Manajemen marah

Kami pikir tidak ada di antara kita yang tidak pernah marah. Itu hal yang manusiawi, tapi sudahkah kita memenej emosi kita dengan aturan agama? Berikut beberapa ajaran Islam dalam hal ini:

  1. Jangan melampiaskan kemarahan dengan perkataan atau perbuatan

    Salah satu kriteria orang yang beriman adalah mampu menahan marah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran: 134. Para ahli tafsir semisal an-Naisâbûry (w. setelah 850 H) menerangkan bahwa maksud dari menahan amarah adalah tidak melampiaskannya dengan perkataan atau perbuatan.

    Apalagi Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

    “وَإِذَا غَضِبْتَ فَاسْكُت”

    “Jika engkau marah diamlah”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Albany.

  2. Beristi’adzah

    Sulaiman bin Shurad radhiyallahu’anhu bercerita, “Aku duduk bersama Nabi shallallahu ’alaihiwasallam saat ada dua orang saling mencaci hingga salah seorang memerah mukanya dan mengembang urat-urat lehernya. Maka beliau bersabda, “Sungguh aku tahu satu kalimat yang sekiranya dibaca seseorang maka akan lenyap apa yang dialaminya. Sekiranya membaca a’udzubillahiminasyaithonirrojim maka hilanglah apa yang dijumpainya”. HR. Bukhari.

  3. Merubah posisi

    “إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ”

    “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah. (HR. Bukhari).

Marah yang berpahala

Tidak semua kemarahan tercela. Bahkan ada kemarahan yang diperbolehkan, bahkan terpuji, yakni marah manakala kehormatan Allah ta’ala dan ajaran Islam dilanggar. Ini merupakan bagian dari pengagungan syiar Allah yang berupakan bukti ketaqwaan. (Baca: QS. Al-Hajj: 32).  Sehingga tatkala ajaran Islam dinodai dan larangan Allah diterjang, kemudian sebagian orang adem ayem saja, keimanan mereka perlu dipertanyakan.

Aisyah radhiyallahu’anha menuturkan salah satu karakter Rasul shallallahu’alaihiwasallam,

“مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ. وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ، إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ”

“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam tidak pernah memukul dengan tangannya sesuatupun, istri atau pembantunya, kecuali manakala berjihad di jalan Allah. Beliau juga tidak pernah disakiti seseorang lalu membalasnya. Kecuali apabila larangan Allah dilanggar, maka saat itu beliau akan membalas karena Allah”. HR. Muslim.

Bedakan karakter panutan kita di atas, dengan tipe banyak orang yang jika nama baik pribadinya dicemarkan ia akan naik pitam dan marah sejadi-jadinya, namun sebaliknya tatkala ajaran Islam yang dinodai dan dilecehkan maka ia akan tenang-tenang saja tanpa reaksi! Hanya kepada Allah sajalah kita mengadu…

 

Artikel : tunasilmu.com